Friday, September 27, 2013
Kepompong atau Kutu Loncat
Nah sekarang apa hubungannya salary dengan kepompong dan kutu loncat? Begini...
Kepompong
Sudah banyak yang tahu kalau kepompong ini akan berubah menjadi kupu-kupu. Dalam perubahan ini dia akan berada pada satu tempat sampai cukup umur dan bisa berubah menjadi "bentuk" selanjutnya.
Begitu juga dengan karir, seseorang bisa saja berada di satu tempat sampai dia mampu "berubah bentuk". Berubah bentuk disini maksudnya mendapatkan pengalaman baik di bidangnya ataupun bidang lain. Tidak kalah penting adalah mendapatkan softskill seperti bagaimana cara menghadapi orang, bagaimana cara berdiskusi, bagaimana cara mengarahkan, dll.
Jadi kesimpulannya kepompong adalah analogi dari seorang yang bertahan dalam satu tempat, untuk "mematangkan" diri sendiri, kemudian saat sudah menjadi kupu-kupu, carilah tempat baru yang bisa memberikan lebih. Lebih disini adalah lebih secara salary dan karir. Jika posisimu saat ini adalah staff, maka untuk posisi baru carilah minimal posisi supervisor.
Contoh nyata yang baru saya ketahui 3 hari lalu, di perusahaan X seorang senior manager dari perusahaan Y bisa mendapat salary 2x lipat dari senior manager perusahaan X tersebut. Yang lebih konyol, si senior manager pindahan ini usianya 15 tahun lebih muda!
Kutu Loncat
Kutu loncat tentunya ya loncat-loncat dong.. Jadi seseorang bisa saja pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menaikkan salary dan karirnya. Disini yang penting adalah pengalaman, untuk teman-teman fresh graduate mungkin harus 'stay' di satu tempat dulu setidaknya setahun. Untuk loncatan pertama, gunakan pengalaman yang setahun itu sebagai nilai tambah untuk perusahaan baru. Alangkah baiknya kalau di loncatan pertama ini bisa mendapatkan bidang yang baru. Tidak mendapat bidang yang barupun tidak apa, asal salary-nya lebih baik.
Nah sekarang yang juga harus diperhatikan baik menjadi kepompong maupun kutu loncat adalah persentase kenaikan salary yang didapat. Kalau persentase kenaikan cuma 10% sebaiknya dipertimbangkan untuk mencari tempat lain. Mengapa begitu? Karena inflasi di Indonesia ini hampir mencapai 10% per tahun. Lha kalau kenaikannya cuma 10% kan habis juga kena inflasi. Sangatlah baik bila kenaikan salary tsb mencapai 20%-50%.
Apa itu inflasi? Bagaimana menyikapinya?
Di posting selanjutnya yaa... << Inflasi dan Investasi >>
Thursday, September 26, 2013
Staff Kantor dan Petugas Pantry
Kalo gitu, mending pindah jadi petugas pantry dong?
Karena nganggur (baca: tidur) nungguin orang selesai kerja tapi dapat upah lembur. Sementara staff kerja lembur dengan segala macam tanggung jawabnya hanya mendapat jatah makan malam.
Jawaban dari pertanyaan ini tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya :
Apapun jawabannya, haruslah disadari bahwa “There is no growth in comfort zone, and there is no comfort in growth zone” :D
Bagaimana cara mendapatkan kenaikan salary? Berapa minimal kenaikan salary yang ideal?
Next on Kepompong dan Kutu Loncat
Wednesday, May 9, 2012
3 Kata yang Sebaiknya Tidak Sering Anda Ucapkan
1. SAYA TIDAK BISA
Seringkali saat kita dihadapkan dengan suatu target atau pekerjaan yang kelihatannya agak sulit kita cenderung suka berkata, saya tidak bisa.
Anda perlu tahu saat Anda berkata, saya tidak bisa maka dengan segera perkataan Anda hanya akan membuat pintu pikiran Anda tertutup untuk mencari jalan dan mencoba.
Sebaliknya jika Anda berkata saya belum bisa ini masih membuat otak kita bekerja mencari jalan.
Kalau Anda sering mengucapkan kata saya tidak bisa maka ini dapat membatasi kemampuan diri Anda. Sikap merasa tidak bisa juga melumpuhkan potensi dan kreativitas Anda.
Anda juga dapat mengucapkan kata saya coba dulu, setidaknya dengan demikian Anda akan tahu seberapa kemampuan Anda untuk meraih suatu hal.
Untuk menjadi seorang Achiever yang sejati jangan pernah lagi ucapkan kata saya tidak bisa, khususnya dalam hal yang berhubungan dengan kemampuan Anda.
2. TIDAK MUNGKIN
Orang-orang yang sering berkata tidak mungkin akan menutup berbagai pintu keajaiban.
Dengan sikap seperti ini mereka akan sulit meraih sesuatu yang hebat. Karena hampir segala sesuatu yang kita nikmati hari ini adalah sesuatu yang mustahil di hari kemarin. Semua pencapaian yang luar biasa diawali dengan suatu keyakinan bahwa hal itu mungkin dikerjakan atau diwujudkan.
Buktinya kalau Anda perhatikan berbagai peralatan teknologi yang canggih saat ini, mungkin waktu dulu awalnya banyak orang yang menganggap itu sesuatu yang tidak mungkin tapi ternyata sekarang hal itu mungkin untuk diciptakan.
Ini berarti apa saja yang Anda ingin raih saat ini dalam hal karir, keuangan, keluarga, ataupun perkembangan diri Anda, hal itu sangat mungkin dicapai.
Seorang achiever harus belajar melihat setiap kemungkinan dibalik suatu kemustahilan. Ini akan mendatangkan banyak keajaiban terjadi dalam hidup Anda.
3. SAYA SUDAH TAHU
Setiap kali Anda mengucapkan bahwa saya sudah tahu, sebenarnya Anda sedang menutup pintu pembelajaran. Sehingga kita tidak lagi berusaha untuk mempelajari hal-hal baru.
Padahal dalam kehidupan selalu ada hal yang dapat kita pelajari. Kalau Anda membaca buku, menghadiri seminar atau berkomunikasi dengan sikap sok tahu maka Anda tidak akan pernah belajar sesuatu.
Karena para achiever adalah orang yang selalu mau belajar dan ingin mencari tahu.
Ketika seseorang menganggap bahwa dia sudah mengetahui semuanya itu suatu kebodohan. Kenyataannya semakin Anda benar-benar tahu, semakin Anda menyadari bahwa Anda tidak tahu.
Pengetahuan hanya datang pada orang-orang yang siap menerimanya.
http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/artikel/3-kata-yang-sebaiknya-tidak-sering-anda-ucap
Sent from BlackBerry® on 3
Monday, May 7, 2012
6 Hal yang Tidak Dilakukan Orang Sukses
1. Work Alone
Mereka tak pernah berusaha untuk bekerja sendiri. Mereka para orang sukses, dalam perjalanannya cenderung untuk memerlukan support dari pihak lainnya misalnya saja teman, keluarga atau mungkin dengan bimbingan spiritual. Dan mereka yang sukses mempunyai daftar panjang mengenai orang-orang yang telah memberikan sebuah prestasi ataupun kontribusi yang telah dicapai.
2. Menunggu Timing Yang Tepat
Untuk memulai, mereka tidak pernah menunggu waktu yang tepat. Mereka tidak akan mengatakan “Nantilah, besok sajalah kalo sudah ada modal”. Mereka yang sukses telah tertanam keberanian untuk dapat menanggung resiko yang bakal mereka hadapi. Dan mereka selalu melakukan evaluasi apbila terjadi kekurangan dalam perjalanannya berkarir.
3. Berpikir Tentang Kesenangan
Mereka tidak berpikir akan kepuasan serta kesenangan yang bakal diraihnya. Untuk dapat mengejar aspirasi yang diharapkan membutuhkan begitu banyak kerja keras dan juga usaaha demi dapat mewujudkan keinginan serta harapan yang didambakannya. Dan tak jarang mereka mengorbankan hal-hal yang berhubungan dengan kesenangan mereka demi dapat meraih impian. Mereka juga tidak pernah berpikir bahwa apabila jalan semakin sulit berarti langkah mereka salah. Mereka menanamkan prinsip easy going and nothing to lose.
4. Ketakutan
Mereka tidak akan memberikan ruang singgah untuk “ketakutan” pada diri mereka. Ketakutan bukan merupakan halangan. Mereka tidak akan berhenti sebelum meraih prestasi yang diharapkan.
5. Pesimistis
Demi membuat kemajuan, mereka membuang keraguan. Jangan menjadi budak dari rasa kekecewaan apabila mencoba membandingkan diri dengan seseorang yang mengejar impian yang sama dengan yang sedang Anda kejar. Orang yang sukses cenderung mengagumi orang yang lebih dulu sukses dari mereka, menghormati segala perspektif mereka yang unik serta cara mereka dalam menggapai mimpi mereka.
6. Phobia Kegagalan
Kegagalan bukanlah sebuah momok bagi mereka. Mereka beranggapan bahwa kegagalan merupakan sebagian kecil dari sebuah proses dalam mengiringi perjalanan guna meraih impian serta tujuan akhir. Kegagalan merupakan sebuah hasil yang tak terduga, merupakan suasana baru dalam perjalanan sukses. Dan mereka siap untuk menerima kegagalan yang tidak diketahui kapan datangnya.
Semoga artikel di atas dapat memberikan Anda semangat dalam meraih apa yang Anda inginkan. Tetap semangat, raih suksesmu !!!
Story Courtesy by New Age Magazine
http://wartaaa.com/2012/05/07/6-hal-ini-tidak-dilakukan-oleh-mereka-yang-sukses/
Wednesday, February 1, 2012
DALE CARNEGIE - GOLDEN RULES FOR SUCCESS
Monday, January 16, 2012
Good Speech dari Dahlan Iskan
Pernyataan ini sebenarnya diungkapkan Dahlan selepas dilantik menjadi Menteri BUMN Oktober tahun lalu pada suatu media. Entah bagaimana tiga hari terakhir menjadi pembicaraan di forum-forum, dikutip di berbagai blog, bahkan dimuat juga di akun
Facebook yang menamakan dirinya Dahlaniskanfans.
Berikut pernyataan lengkap Dahlan Iskan yang diberi judul "
Good Speech dari Bpk Dahlan Iskan" di forum-forum:
Menjadi pemimpin itu dianggap enak. Menjadi pemimpin itu dianggap bisa berkuasa.
Tetapi banyak yang tidak menyadari bahwa untuk bisa menjadi pemimpin yang baik sebenarnya harus pernah membuktikan dirinya pernah menjadi orang yang dipimpin.
Ketika menjadi orang yang dipimpin itu, dia juga bisa menjadi orang yang dipimpin dengan baik. Artinya untuk bisa menjadi pemimpin yang baik harus pernah menjadi anak buah yang baik.
Saya meragukan seseorang yang ketika menjadi anak buah tidak baik, dia bisa menjadi pemimpin yang baik. Menjadi anak buah yang baik itu adalah anak buah yang loyal tetapi juga kritis. Anak buah yang patuh tetapi juga bisa berpikir mana yang baik dan mana yang tidak baik. Anak buah yang selalu bisa memberikan jalan keluar kepada atasannya. Anak buah yang bisa memberikan pemecahan masalah bagi atasannya. Bukan anak buah yang selalu merepotkan atasannya, anak buah yang selalu membikin masalah pemimpinnya dan anak buah yang selalu memberikan persoalan bagi pemimpinnya.
Jadi ketika menjadi anak buah, dia harus bisa menjadi anak buah yang baik, bukan menjadi bagian persoalan dari pemimpinnya, tetapi menjadi problem solver bagi pemimpinnya.
Nah... kalau seseorang itu pernah menjadi anak buah yang baik, dan dalam kurun waktu yang cukup, maka kelak ketika dia naik menjadi pemimpin, dia akan bisa menjadi pemimpin yang baik. Karena seorang pemimpin yang pernah menjadi anak buah yang baik, maka dia bisa mengetahui bagaimana rasanya pernah menjadi anak buah.
Dengan demikian dia bisa tahu apa saja yang diperlukan anak buah dan bagaimana perasaan anak buah. Jadi pemimpin yang baik adalah pemimpin yang pernah menjadi anak buah yang baik.
LuarBiasa!!!
http://m.andriewongso.com/artikel/aw_corner/4755/Good_Speech_dari_Dahlan_Iskan
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Monday, April 4, 2011
10 Rahasia Sukses Jepang
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.
2. Malu
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.
3. Hidup Hemat
Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.
4. Loyalitas
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.
5. Inovasi
Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.
6. Pantang Menyerah
Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia . Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) . Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini
7. Budaya Baca
Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.
8. Kerjasama Kelompok
Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok” . Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.
9. Mandiri
Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya yang paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.
10. Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua
Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini.
Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.
Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.
Wednesday, March 23, 2011
GOLDEN RULES OF TAO ZHU GONG
Setelah negaranya mampu mengalahkan negara lawannya, Fan Li memohon pensiun dini dari sang kaisar, yang dengan berat hati, meluluskan.
Dalam perjalanan pindah ke negara lain, seorang jenderal yang menjadi sahabat Fan Li mengantarkannya sampai jauh dan memohon agar Fan Li membatalkan pengunduran dirinya. Dalam sebuah kesempatan hanya berdua saja, Fan Li menasehati sahabatnya untuk juga mengundurkan diri. Dan waktu ditanya mengapa, Fan Li menjawab bahwa kaisar junjungan yang dicintainya adalah orang yang sangat baik pada saat susah, tetapi menjadi manusia kejam pada saat berkuasa.
Jenderal sahabatnya tidak mengikuti nasehat Fan Li, dan beberapa tahun kemudian jenderal tersebut dihukum mati oleh kaisar, karena kaisar curiga jenderal tersebut akan memberontak.
Setelah pindah ke negara lain, Fan Li menjadi pengusaha yang sukses. Kekayaannya melebihi kekayaan negara, karena kepandaiannya dalam menilai karakter orang, mempergunakan teknologi informasi paling canggih pada saat itu yaitu merpati pos untuk mengetahui harga dan stok komoditi di berbagai negara.
Begitu kayanya sehingga Fan Li memiliki kemampuan untuk menjatuhkan seorang raja dari suatu negara dengan hanya menaikkan atau menurunkan harga pangan.
Beberapa prinsip bisnis dari Fan Li menjadi legenda dikalangan pengusaha Tionghoa seperti yang tertulis berikut ini.
The Twelve Golden Rules are as follows:
- Be a good judge of character.
- Be customer-oriented.
- Be single-minded.
- Be captivating in your sales promotion.
- Be quick to respond.
- Be vigilant in credit control.
- Be selective to recruit only the best.
- Be bold in marketing your product.
- Be smart in product acquisition.
- Be adept in analyzing market opportunities.
- Be a corporate model.
- Be farsighted in developing a total business plan.
- Don't be stingy.
- Don't be wishy-washy.
- Don't be ostentatious.
- Don't be dishonest.
- Don't be slow in debt collection.
- Don't slash prices arbitrarily.
- Don't give in to herd instinct.
- Don't work against the business cycle.
- Don't be a stick-in-the-mud.
- Don't overbuy on credit.
- Don't under-save (keep reserve funds strong).
- Don't blindly endorse a product.
- Ability to know people;
- Ability to handle people;
- Ability to focus on the business;
- Ability to be organized;
- Ability to be agile and flexible;
- Ability to demand payment;
- Ability to use and deploy people;
- Ability to articulate;
- Ability to excel in purchasing;
- Ability to diagnose and seize opportunities and combat threats;
- Ability to initiate and lead by example;
- Ability to be far-sighted.
Monday, April 27, 2009
Seni Negosiasi Gaji
Menurut konsultan dari Experd, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan negosiasi gaji dengan atasan.
Pertama, mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai kondisi tempat Anda bekerja. Informasi ini meliputi, bagaimana kondisi keuangan perusahaan saat ini, apakah memungkinkan untuk melakukan kenaikan, jika mungkin, berapa persen kenaikannya.
Ada baiknya Anda melakukan survey kecil-kecilan untuk mendapatkan informasi selengkapnya. Selain itu, seberapa berharga diri Anda untuk mendapatkan kenaikan gaji, dalam arti apakah posisi Anda akan dengan mudah digantikan orang lain dengan ketrampilan sama tetapi bergaji lebih rendah.
Cobalah menempatkan diri dalam posisi atasan, bagaimana mereka akan menyikapi permintaan Anda, mengingat pasti Anda bukan satu-satunya karyawan yang minta kenaikan gaji. Tanyakan diri dengan jujur alasan utama Anda meminta kenaikan gaji.
Kedua, strategi dalam melakukan negosiasi. Sebaiknya negosiasi dilakukan dalam suasana diskusi yang menyenangkan. Diskusi berarti proses memberi dan menerima. Buat daftar terperinci hal-hal apa saja yang Anda inginkan dari perusahaan. Jangan terpaku pada gaji pokok saja, ada banyak benefit dari perusahaan yang bisa Anda tawar.
Olah dan sajikan data-data, apa yang akan didapat perusahaan dengan biaya yang lebih besar yang dikeluarkan untuk Anda. Untuk itu, cara paling baik dalam melakukan negosiasi adalah meminta anggung jawab lebih besar. Perusahaan cenderung merasa keberatan jika harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk hasil yang sama yang mereka dapatkan sebelumnya.
Ketiga, pilih waktu, tempat dan cara negosiasi. Carilah waktu dan tempat yang memungkinkan Anda dan atasan melakukan negosiasi senyaman mungkin. Jangan bernegosiasi saat atasan sedang dikejar tengat waktu laporan atau saat perusahaan sedang diaudit.
Mintalah atasan melakukan negosiasi secara tatap muka. Tulis email atau memo kepada atasan mengenai hal ini. Jangan kemukakan terlebih dahulu alasan pertemuan tersebut. Berikan alasan umum aja seperti Anda ingin menerima masukan darinya mengenai performance Anda. Atasan cenderung mencari cara untuk menolak pertemuan dengan bawahan yang ingin meminta kenaikan gaji.
Diskusi yang dilakukan secara tatap muka akan menghindarkan terjadinya salah tafsir akibat bahasa tulis, selain itu Anda bisa melakukan upaya persuasi. Jika semua usaha sudah dilakukan sebaik-baiknya tapi Anda masih tidak mendapatkan apa yang diinginkan, tanyakan baik-baik alasannya. Pertimbangkan secara hati-hati alasan yang dikemukakan.
Jika alasan mereka adalah ketidakadanya dana ataupun waktu yang kurang tepat, cobalah untuk meminta komitmen bahwa permintaan Anda akan dikabulkan secepatnya bilamana kondisi perusahaan memungkinkan.
Jika perusahaan tidak dapat memberikan alasan yang pasti dan masuk akal bagi Anda mengenai penolakan mereka, Anda mungkin perlu mempertimbangkan kemungkinan perusahaan Anda tidak menghargai Anda sebaik Anda menghargai diri Anda sendiri. Kadangkala hal ini terjadi dan mungkin inilah saat yang tepat bagi Anda untuk melangkah ke tempat lain.